Nabi Khidir: Guru Rahasia di Balik Takdir Allah
Di suatu masa, ketika ilmu Nabi Musa ‘alaihissalam telah menyinari Bani Israil, terucap sebuah kalimat yang menjadi awal takdir besar. Saat ditanya siapa manusia paling berilmu di muka bumi, Nabi Musa menjawab dengan jujur sesuai pengetahuannya, bahwa dialah orangnya. Namun Allah ﷻ, Yang Maha Mengetahui segala rahasia, hendak mengajarkan pelajaran yang jauh lebih dalam.
Allah ﷻ berfirman kepada Musa, bahwa ada seorang hamba-Nya yang diberi ilmu khusus, ilmu yang tidak tertulis di kitab, tidak diajarkan di majelis, dan tidak bisa dipelajari hanya dengan akal. Dialah Nabi Khidir.
Maka dimulailah perjalanan panjang Nabi Musa bersama murid setianya, Yusya’ bin Nun. Mereka berjalan hingga ke pertemuan dua lautan, tempat di mana seekor ikan hidup kembali dan melompat ke laut—tanda yang telah Allah tetapkan.
Di sanalah Nabi Musa bertemu dengan seorang lelaki yang wajahnya tenang, tatapannya dalam, dan ucapannya lembut namun penuh wibawa. Dialah Khidir.
Nabi Musa berkata dengan penuh adab,
“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu?”
Khidir menjawab dengan suara yang tenang,
“Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku.”
Namun Nabi Musa berjanji akan bersabar dan tidak membantah. Maka Khidir menetapkan satu syarat:
“Jika engkau mengikutiku, jangan bertanya apa pun sebelum aku menjelaskannya.”
• Ujian Kesabaran Pertama: Perahu yang Dilubangi
Mereka menaiki sebuah perahu milik orang-orang miskin yang dengan ikhlas menolong mereka. Tanpa peringatan, Khidir melubangi perahu itu. Air mulai masuk.
Nabi Musa terkejut. Hatinya bergejolak.
“Mengapa engkau melubangi perahu ini? Apakah engkau hendak menenggelamkan penumpangnya?”
Khidir hanya berkata,
“Bukankah telah kukatakan, engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?”
Nabi Musa menyesal dan memohon maaf.
• Ujian Kedua: Anak Kecil yang Dibunuh
Dalam perjalanan, mereka bertemu seorang anak kecil. Tanpa ragu, Khidir mengakhiri hidup anak itu. Kali ini Nabi Musa tak sanggup menahan diri.
“Mengapa engkau membunuh jiwa yang tidak bersalah?”
Khidir kembali mengingatkan janjinya. Hati Nabi Musa semakin gelisah, namun ia tetap melanjutkan perjalanan.
• Ujian Ketiga: Tembok yang Ditegakkan
Mereka tiba di sebuah desa yang penduduknya pelit dan enggan menjamu tamu. Di sana, Khidir melihat sebuah tembok hampir roboh, lalu ia menegakkannya kembali—tanpa meminta upah.
Nabi Musa berkata,
“Seandainya engkau mau, engkau bisa meminta upah atas pekerjaan ini.”
Saat itulah Khidir berkata,
“Inilah perpisahan antara aku dan engkau. Akan aku jelaskan apa yang tidak sanggup engkau sabari.”
- Rahasia di Balik Takdir
Khidir pun membuka tabir rahasia takdir Allah:
• Perahu itu dilubangi karena di depan mereka ada raja zalim yang merampas setiap perahu yang bagus. Kerusakan kecil menyelamatkan pemiliknya dari kehilangan segalanya.
• Anak kecil itu kelak akan tumbuh menjadi orang yang menyesatkan kedua orang tuanya yang beriman. Allah hendak menggantinya dengan anak yang lebih baik dan penuh kasih.
• Tembok itu menyimpan harta milik dua anak yatim. Ayah mereka adalah orang saleh. Allah menjaga harta itu hingga mereka dewasa, tanpa meminta balasan apa pun.
Khidir menutup penjelasannya dengan kalimat yang mengguncang jiwa:
“Aku tidak melakukannya atas kehendakku sendiri. Semua ini adalah perintah Allah.”
- Pelajaran Abadi untuk Umat Manusia
Nabi Musa terdiam. Seorang nabi besar, pembawa kitab, diajarkan bahwa tidak semua takdir Allah bisa dipahami saat ini. Ada luka yang ternyata penyelamat. Ada kehilangan yang ternyata penjagaan. Ada ketidakadilan yang ternyata rahmat tersembunyi.
Nabi Khidir pergi, meninggalkan pelajaran abadi untuk seluruh umat manusia:
Apa yang kita benci hari ini, bisa jadi adalah perlindungan Allah.
Dan apa yang kita anggap baik, bisa jadi ujian yang tersembunyi.
Allah ﷻ tidak pernah salah menulis takdir.
Yang sering keliru hanyalah kesabaran manusia dalam menunggu penjelasan-Nya.
Komentar
Posting Komentar